Pepatah Minangkabau yang terkenal, ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’ (Adat Berlandaskan Syariat, Syariat Berlandaskan Al-Quran), merupakan filosofi hidup yang mengakar kuat di Sumatera Barat (Sumbar). Nilai luhur ini menjadi pedoman utama dalam tatanan kehidupan masyarakat. Kini, seiring masuknya modernisasi dan munculnya berbagai masalah sosial kontemporer, muncul pertanyaan mengenai relevansi dan peran nilai ini dalam memecahkan masalah sosial yang kompleks seperti narkoba, radikalisme, dan disrupsi keluarga.
Adat Basandi Syarak (ABS-SBK) bukan sekadar slogan, melainkan sistem hukum dan etika yang mengintegrasikan budaya Minangkabau (Adat) dengan ajaran Islam (Syarak). Nilai ini menekankan pentingnya musyawarah, ketaatan pada norma, serta peran sentral Mamang (paman), Niniak Mamak (pemangku adat), dan ulama dalam membimbing masyarakat. Dalam konteks masalah sosial kontemporer, sistem ini menawarkan mekanisme resolusi konflik yang berorientasi pada pemulihan hubungan sosial, bukan hanya hukuman.
Salah satu masalah sosial kontemporer di Sumbar adalah penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda. Dalam konteks ABS-SBK, memecahkan masalah sosial ini dapat dimulai dengan revitalisasi peran Mamang dan Niniak Mamak di nagari (desa adat). Mereka dapat berfungsi sebagai figur otoritas moral yang memberikan edukasi dan pengawasan sosial, mengurangi risiko remaja terjerumus. Nilai kebersamaan dan rasa malu terhadap sanak saudara (kerabat) dapat menjadi benteng pencegahan yang kuat.
Isu lain adalah disrupsi keluarga dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang seringkali luput dari pandangan publik. Nilai Adat Basandi Syarak menempatkan wanita (Bundo Kanduang) pada posisi yang dihormati dalam sistem Matrilineal. Dalam memecahkan masalah sosial terkait KDRT, Mamang atau Bundo Kanduang yang disegani dapat menjadi mediator yang berupaya menjaga keharmonisan keluarga sesuai dengan nilai Syarak yang menjunjung tinggi keadilan.
Tantangan utama dalam menggali nilai ABS-SBK adalah jurang pemahaman antara generasi tua dan generasi muda yang lebih terpapar budaya global. Pemerintah Sumbar dan lembaga adat perlu berinovasi dalam mengemas nilai ini agar relevan dan menarik bagi kaum milenial. Misalnya, melalui konten digital, workshop kewirausahaan berlandaskan etika Islam, atau pelatihan kepemimpinan yang mengintegrasikan ajaran ABS-SBK.
